Nico ( September awal )
Ini diluar pemikiranku. Bahkan aku tidak pernah membayangkannya sedikitpun. Aku tak menyangkanya. Apapun yang terjadi malam itu, aku masih tetap menganggapnya mimpi. Hanya saja aku belum terbangun dari mimpi burukku. Aku melihat Lazie, sahabat sekaligus seseorang yang diam-diam ku kagumi, tak sadarkan diri bergelut dengan leukemia promielosistik akut yang dideritanya selama ini.
Tidak-tidak. Ini hanyalah mimpi buruk yang menggangguku. Itu artinya aku harus bangun. Harus. Dan kapan aku akan terbangun? Semua ini seperti nyata dimataku. Tapi tidak dipikiranku. Tapi kini air mataku nyata tersentuh. Menangisi dia yang berbaring di ranjang putih dengan mata terpejam rapat entah kapan dia akan membukanya. Sesuatu yang aku sadari dalam hal ini adalah aku begitu sangat merindukannya. Walaupun dia ada didepanku. Namun jiwanya tak dapat kulihat..
Rosalie ( september )
Saat itu aku melihtatnya berbaring selama tiga hari ini. Itu artinya aku belum melihat senyum anakku mengembang selama tiga hari ini. Namaku Rosalie. Ibu dari anak yang menderita leukemia promielosistik akut. Entah mendapat karma atau ujian dari Tuhan, aku mendapatkan banyak sekali cobaan yang aku rasa aku tak pernah menemukan ujungnya. Dan mungkin bahkan tak ada ujungnya. Entahlah. Yang jelas itu sangat membuatku down.
Aku memandangi Lazie dari balik kaca kamar vip. II, rumah sakit Bina Kartika. Menggantikan bajunya, membersihkan kulitnya untuk pengganti mandi karena ia tak bisa bangun. Itulah rutinitasku sehari-hari selama Lazie berbaring di rumah sakit ini. Entah apa aku sanggup melalui hari-hari tanpa dia. Mungkin tidak. Jika saatnya nanti dia memang harus pergi, aku harus menyiapkan segalanya. Mental sekuat baja dan berliter-liter airmata yang akan aku tumpahkan untuknya. Terkadang aku sulit untuk berfikir positif mengenai kesembuhan anakku. Bukan karena aku sudah tidak menyayanginya. Itu sebabnya karena aku terlalu menyayanginya. Aku terus berdoa untuknya. Dia selalu berada dalam doa tersuciku. Karena aku hanya menginginkan kesembuhan anakku. Minimal agar dia sadar dari komanya. Hal itu cukup untuk aku dapat mengembangkan senyumku kembali. Setidaknya aku bisa bernafas lega setelahnya.
Lazie ( Agustus )
Sebagai anak perempuan yang memiliki penyakit mematikan, aku tak lagi menaruh banyak harapan apa yang ada di dunia ini. Disinilah aku. Hidup tanpa pilihan dengan langkah bingung. Akan ada apa di hari esok? Tidak akan ada yang tahu. Ibuku bilang semua yang menghampiri akan pergi. Ya, semua yang hidup akan mati. Hanya saja waktu yang membedakannya. Leukemia promielosistik akut yang hinggap di tubuhku ini mempercepat waktu pada hasil akhir hidupku. Ibu selalu memberikan motivasi untukku agar aku tidak harus dendam terhadap waktu. Sabar dan ikhlas. Tapi bagaimana dengan masa depan? Cita-cita? Waktu tidak memberiku kesempatan mengenai masa depan. Tidak ada masa depan. Tidak ada cita-cita..
KRIIIING!! Bel sekolah berbunyi mengingatkan semua penghuni sekolah untuk beristirahat dari aktifitas belajar dan mengajarnya. Aku ditemani sahabat sehidup sematiku – Nico, pergi menuju kantin sekolah untuk menyantap hidangan Mbak Mugi. Masakan Mbak Mugi menurut Nico – jatuh cinta pada santapan pertama. Argumen konyol yang pernah ku dengar selama hidup di dunia ini. “Zie. Wajahmu terlihat kusut. Kau kenapa?” Nico memperhatikanku sedari tadi. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja ada yang mengganggu pikiranku” Aku tidak begitu yakin apa yang ada di pikiranku. “Apa yang mengganggumu? Sesuatu yang buruk?” Nico terlihat sangat ingin tahu. “Entahlah. Kau percaya keajaiban?” Nico mengerutkan kening. “Hm.. Sedikit. Apa yang membuatmu tiba-tiba menanyakan hal itu?” Nico mengaduk minuman yang kurasa itu tidak perlu. “Tidak. Kau percaya Tuhan?” Nico berhenti mengaduk sebentar, lalu kembali mengaduknya. “Tentu saja” Ia menyeruput minuman itu. “Menurutmu apa Tuhan itu baik? Setidaknya padamu?” Aku memandangnya lama karena dia tidak langsung menjawabku. “Ya..” Dia memandangku. “Kau pernah membenci Tuhan?” Aku masih memandangnya. Ternyata dia mempunyai mata coklat yang bagus “Dalam hal apa?” Nico menyeruput lagi munumannya. “Apa saja” Jawabku. “Pernah. Dan aku menyesalinya setelah itu. Saat aku marah pada ayahku karena kesibukannya, dia berusaha memberiku gambaran betapa sayangnya dia padaku. Tapi aku tidak mendengarnya. Dan tiba-tiba.. ayahku tertabrak sepeda motor dan meninggal saat itu juga. Bagaimana aku tidak membenci Tuhan? Tuhan mengambil satu satunya hal yang aku punya” Nico bercerita panjang lebar. “Lalu?” Aku menunggu kelanjutannya. “Aku tidak lagi percaya akan kebaikan Tuhan. Namun, setelah itu datang orang yang nyaris sama seperti ayahku. Dan saat itu aku menyesal telah membenci Tuhan..” Dia menyesal.. Lalu bagaimana denganku?
¨¨¨
Sore itu aku berada di sebuah tempat yang sunyi. Hanya deru ombak yang terdengar sore itu. Aku sedang mengikuti kegiatan sekolah, acara camping yang diadakan sekali dalam tiga tahun ajaran semasa menjadi makhluk putih-abu.
Seusainya acara makan bersama, aku beranjak pergi menuju pantai. Pasir putih yang halus menggelitik kaki telanjangku. Angin dari arah laut menggeraikan rambut panjangku. Sambil berjalan aku menemukan sebuah ranting pohon dan aku memungutnya. Menggoreskan huruf demi huruf, hingga menjadi kata pada pasir putih. Kemudian menghapusnya. Dan kembali menggoreskan nama-nama orang yang aku sayangi. Aku menulis nama ROSALIE, lalu mengapusnya. Menuliskan nama NICO, dan aku tak berniat menghapusnya. Aku kembali terhanyut dalam lamunan yang tak berujung pada keputusan itu. Kudengar diantar suara deru ombak seseorang memanggil namaku. Suara itu tidak asing ditelingaku. Nico. Nico menghampiriku lengkap dengan senyumnya. Nico duduk disebelahku dan kami memandangi ombak yang sedang sibuk bermain dilaut. “Kau melihat apa?” Pandangannya tak lepas dari ombak yang berlarian menuju pasir putih. “Kau pikir aku melihat apa?” Dengan cuek aku balik bertanya. “Dan kau ingin aku menebaknya?” Ya ampun, serius, dia tidak pernah berhenti tersenyum di depanku. “Kau lihat ombak-ombak itu? Berlarian seakan tidak kenal dengan lelah. Lihat yang disana. Lama sekali dia berlari. Dan mereka terlihat..” Bahagia. Satu kata itu aku ucapkan tanpa suara, dengan hanya menggerakkan bibirku. Beberapa menit kami saling berdiam. Membiarkan suara riang ombak yang mengisi keheningan antara kami.
“Kau tahu kenapa aku sangat menyukai sunset?” Tiba-tiba aku teringat pemandangan matahari terbenam itu. Nico memandangku, lalu menggeleng. “Aku selalu takkjub dengan keindahan warna yang dilukis Tuhan.. Batas antara pagi dan malam” Nico memandangku begitu lama. Pandangan itu sedikit berbeda dari biasanya. Lebih lembut. Matanya yang tajam memandang mataku seakan mampu menembus sampai ke inti hatiku. Tuhan, aku ingin lebih lama tinggal di sini, setidaknya untuk mengingat wajah lembut yang ada dihadapanku ini.. “Apa yang kau rasakan saat ayahmu meninggal?” Aku mengambil kerang dan melemparnya. “Sedih. Terpukul, kehilangan, dan.. Marah. Sangat marah” Dia meniruku mengambil kerang lalu melemparnya. “Marah?” Tanyaku. “Ya, bagaimana aku tidak marah, satu satunya orang berharga yang aku punya tiba-tiba pergi begitu saja tanpa pamit” Dia mengambil kerang besar, namun tidak jadi melemparnya. “Kau tahu? Nenekku pernah bilang, seseorang akan terasa sangat berharga setelah ia pergi” Aku menemukan kerang yang rusak. Matahari akan terbenam sebentar lagi. Karna kulihat warna gradasi jingga dan ungu menghiasi setiap sudut langit sore yang luas.
Ketika waktunya tiba, aku melihat matahari mulai turun dan perlahan tenggelam di ufuk barat. Saat itu pula pandanganku menjadi kabur. Cairan darah menetes keluar dari hidungku. Seketika itu aku merasakan dunia berputar. Memar yang kurasakan pada dahi dan pipiku semakin sakit. Kurasakan tangan hangat yang panik memegang kepalaku. Nico meneriakkan namaku. Namun aku tak dapat berkutik. Saat itulah aku menutupkan mataku dalam pelukannya. Saat di batas senja. Ia menangis untukku. Aku merasakan ada sedikit tenaga pada otot bibirku. Aku tidak mau mensia-siakannya. Aku memberikan senyuman tanpa pandangan kepadanya. Dan saat itu aku tak sanggup lagi tersentum. Bahkan untuk membuka mataku. Maaf Nico.. aku menyayangimu..
Nico
Sudah tiga hari ini aku melihatnya berbaring di ruangan putih itu. Hal yang tanpa sadar yang membuatku besar hati. Aku telah memenuhi keinginannya. Saat matanya tertutup untuk jangka waktu yang lama, sadarlah bahwa aku akan kehilangan harta yang berharga di batas senja. Semuanya ikut tenggelam bersama matahari.
Pagi itu aku duduk di samping Lazie yang tertidur panjang. Aku melihat garis wajah anak kecil saat ia tertidur. Aku tidak pernah berfikir tentang penyakit yang dideritanya itu. Leukemia promielosistik akut itu telah mengisi hidup Lazie sejak usia 8 tahun. Namun dulu penyakit itu berhibernasi dibawah kulitnya seperti beruang. Dan sekarang, diusianya yang ke enam belas penyakit itu sedang meraung di dalamnya. Lazie tertidur bersama maut disampingnya. Begitu mengerikan ketika kalimat itu terpikir olehku.
Aku melihat jarum jam berdetak dengan sabar. Satu bulan Lazie tak dapat terbangun dari tidurnya. Saat inilah, ketika aku tidak tahu apakah harap layak dipercaya. Namun aku juga tak sanggup bila hanya terdiam dalam sunyi. Kolaborasi deru AC dan jarum jam yang berdetak diruangan itu terdengar seperti saat perang di telingaku. Aku gelisah menunggu saat-saat Dr. Kevin memberikan kabar tentang Lazie. Aku tidak sanggup mendengar setiap kata yang diucapkan Dr. Kevin saat menyampaikan hal terburuk yang pernah aku dengar semasa hidup di dunia.
Rosalie ( Oktober )
Minggu pagi bulan oktober merupakan hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Aku melihat jadwal kalender yang penuh dengan coretan-coretan jadwal pekerjaan. Namun kalender itu dapat berubah drastis jika anakku mengalami memar atau mimisan. Pagi itu dengan mengendarai Mercedes Guardian yang ku beli tahun lalu dari upah pekerjaan yang setiap harinya selalu menyibukkanku. Namun untuk hari ini, aku tidak peduli jika itu hal yang aku banggakan. Aku tidak peduli jika mobil ini adalah mobil termahal dijamannya. Hanya saja konsentrasiku sekarang hanya tertuju pada pengumuman hasil diagnosis Dr. Kevin. Jantungku seakan ingin loncat dari tempatnya ketika menunggu kata-kata yang paling mendebarkan seumur hidupku.
Aku melihat Nico, sahabat Lazie sedang tertidur di pinggir tempat tidur dimana Lazie berbaring diatasnya. Mereka terlihat sangat akrab sekali sehingga tidak akan ada yang menyakngka bahwa mereka hanyalah sepasang sahabat. “Tante Rosalie?” Nico terbangun menyadari keberadaanku diruangan yang sunyi. “Bagaimana anakku?” Nico hanya diam menatap Lazie dengan garis mata yang nyaris putus asa. Aku tidak berani menanyakannya lebih jauh. Karena aku tahu apa yang dia pikirkan.
Aku melihat banyak sekali bunga matahari kesukaan anakku. Ada diantaranya yang sudah layu karena tidak diperhatikan. Ada yang masih tegar. Bunga-bunga itu tertata rapi di atas meja disamping tempat tidurnya. Bunga-bunga itu yang membuat ruangan ini begitu lebih berwarna kuning. Walaupun di sisi lain aku pernah membanyangkan suatu fantasi – berharap Lazie akan bangun jika ia diberi bunga favoritnya. Aku tahu itu sangatlah konyol. Apalagi diusiaku yang sudah menua ini. Mungkin tak ada salahnya jika aku membayangkan sesuatu yang berkaitang dengan keajaiban.
¨¨¨
“Nyonya Rosalie?” Sebuah suara yang kutunggu telah sukses membuatku hampir melepaskan jantung dari tempatnya. Aku hanya memandanginya dengan tatapan sebuah pertanyaan. “Begini. Ini tentang anakmu, Lazie. Tadi aku sudah memutuskan semuanya” Dengan tegang aku menelan ludah. “Jadi bagaimana dok? Apakah harapanku selama ini terkabul? Oh ayolah dok” Dr. Kevin tampaknya ragu dengan jawabannya sendiri. “Seharusnya semua jangan terlalu berharap” Dr. Kevin memandangiku. Lalu Nico yang taj kalah tegangnya denganku. “Lazie..” Dr. Kevin menghela nafas sejenak. “Lazie.. sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Kecuali kau punya anak dengan kesamaan genetik sempurna untuk memberikan apa yang Lazie butuhkan” Semua terdiam dalam ruangan putih yang sunyi. Lalu Dr. Kevin melanjutkan argumennya. “Jika kau ingin harapan yang besar, kau harus memenuhi semua saranku tadi. Karena anakmu memerlukan banyak sekali bantuan. Dia membutuhkan banyak sekali limfosit dari genetika yang serupa dan sempurna. Juga perlu mengambil sumsum tulang belakang untuk transplantasi. Dan untuk berjaga-jaga ketika Lazie mengalami infeksi, harus ada yang menyumbangkan granulosit untuknya. Belum jika penyakitnya kambuh. Harus ada sel induk darah di permukaan tubuh untuk menyelamatkannya” Kosakata kedokteran itu membuatku pusing. Tidak seluruhnya dapat ku cerna di telingaku. Namun aku tahu inti dari kalimat-kalimat itu. “Sudahlah. Sekarang kembali pada kenyataan. Bahwa Lazie sudah tidak bisa diselamatkan. Kecuali jika kau ingin membuat anak dari proses bayi tabung untuk penyelamatnya. Tapi kau tahu itu hanya akan menjadikan kau ibu yang buruk untuk anak-anakmu kelak” Lututku lemas. Aku terduduk di kursi tunggu. “Aku tahu, dok. Aku telah kehilangan anakku.. kini aku sudah tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi..” Aku segera pulang dan membereskan segalanya untuk pemakaman Lazie.
Akhirnya kata-kata terburuk itu telah kudengar. Kini aku harus menelan dalam-dalam kenyataan pahit disela-sela hidupku. Seseorang akan terasa sangat berharga ketika seseorang itu telah pergi. Kata-kata terakhir yang kudengar dari sahabatku kini terngiang di kepalaku. Kau tak pernah tahu, begitu berharganya kau melebihi apa yang aku punya. “Terlalu cepat..”
¨¨¨
Langit sudah menunjukan tanda-tanda bahwa sang matahari akan beristirahat. Karena kulihat layung yang menghiasi langit itu begitu... jingga. Aku berjalan di tepi pantai saat ombak sedang berlarian. Aku melihat di ufuk barat sesuatu yang bulat dan besar dengan perlahan tenggelam. Begitu menawan untuk dilihat oleh sepasang mata. Sesaat aku merasakan keberadaan Lazie ada di sampingku dan menatapku lembut. Dengan senyum terakhir yang ia perlihatkan padaku. Entah ini hayalanku saja atau apa. Mungkin juga ini hanyalah sebuah fatamorgana. Tapi yang kurasakan begitu nyata. Ia seperti menatapku dengan jasadnya – tentu saja. Aku beranikan diri untuk mencari tahu apakah ini hanya fatamorgana atau bukan. “La-lazie?” Serasa ada tumpukan tanah longsor dalam tenggorokanku ketika aku memanggil namanya. Lazie mendekat dan mengulurkan tangannya. Ia membelai pipiku. Tak terasa hangat di pipiku. Tapi cukup hangat untuk hatiku. Ia tersenyum padaku seolah-olah ia berkata terimakasih dan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya. Dan selamanya. Ketika aku hendak menyentuh lengan yang membelai pipiku, ternyata itu hanyalah kumpulan kunang-kunang yang beterbangan. Mungkin saja otakku sedang kacau dan menghayal suatu fantasi. Atau mungkin saja itu memang Lazie untuk mengucapkan selamat tinggal melalui kunang-kunang. Mungkin saja. Karena kita tidak tahu kapan keajaiban akan terjadi.
THE END