KRIIIING!! Suara jam
membangunkan aku dari indahnya bunga tidur. Aku terbangun dan melihat ruangan
di luar kamarku kosong melompong. Rumahku terasa kosong setelah kepergian
ibuku. Aku merasa kesepian setelah di tinggal ibu. Aku adalah anak pertama dan
satu-satunya. Aku tinggal dengan ayahku saat ini. Di rumah nyaris seperti gubuk
yang tiap hujan aku harus menyediakan begitu banyak ember. Hanya dia yang aku
punya.
“Rangga, sekolah jam berapa? Kok jam segini baru bangun,
nak? Ini sudah jam delapan pagi, loh” Ayahku yang berpakaian agak rapi dengan
baju yang sudah lusuh menyapaku. Pekerjaan ayahku adalah kuli bangunan. Ayahku
bekerja tak kenal lelah. Dia tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya itu.
Namun, di sisi lain, aku sendiri. Aku masih duduk di bangku SD. “Jam sepuluh,
ayah.. ayah sudah mau pergi bekerja ya?” Ayahku hanya mengangguk dan pergi
meninggalkan kamarku. Aku terloncat dari tempat tidurku dan mengejar ayah
karena teringat hari ini ada pembagian rapor di sekolahku. Kuhampiri ayah yang
sedang sibuk mengaduk kopi yang ada di tangannya. “Ayah, hari ini aku dibagi
rapor. Apa ayah bisa ke sekolahku? Guruku bilang, rapor harus diambil oleh
orang tua” Ayahku berhanti mengaduk. Dia terdiam sejenak dan memandangiku.
“Maaf, nak. Hari ini ayah harus kerja. Kalau tidak, kamu tidak bisa makan”. Aku
sangat mengerti keadaan kami. Kami bukanlah orang yang terlahir dengan uang
menumpuk di bank. Atau terlahir dari keturunan raja yang kekayaannya akan turun
tujuh temurun. Kami hanyalah orang biasa. Yang mengenal keringat dan air mata.
Tapi aku butuh ayah. Setidaknya aku ingin mempunyai waktu lebih bersamanya.
“Ayah pergi kerja dulu ya, sayang” Ayah mencium keningku dan pergi meninggalkan
aku. Aku melihat punggungnya yang bidang berlalu sampai akhrinya hilang.
¨¨¨
“Rangga” Guruku memanggil namaku. Kini giliranku untuk
mengambil rapor. Aku maju menghampiri Guru ku dengan wajah muram. “Maaf, bu
Guru. Ayahku tidak bisa datang untuk mewakili pengambilan rapor” Guruku hanya
tersenyum. “Tidak apa-apa. Karena kamu juara pertama, Ibu Guru memberikan
pengecualian untuk kamu. Kamu bisa mengambil rapormu sekarang” Aku senang
sekali mendengarnya. “Terimakasih, Bu Guru” Aku sudah tidak sabar memberitahu
hal ini pada ayah.
Sore itu aku pulang dengan wajah riang masih terpampang
di wajahku. Membayangkan ketika aku membuka pintu akan ada ayah yang
menyambutku dengan senyuman. Atau pelukan hangat. Dan ayam goreng kesukaan
kami, yang tentu saja jarang kami makan. Aku berbelok memasuki gang sempit
dimana rumahku tersembunyi antara gedung-gedung tinggi. Jantungku semakin
berdebar ketika kakiku menginjak teras rumah. Ku ketuk pintu berwarna coklat
rumahku “Ayah! Ayah!” Aku memanggil ayah untuk membukakan pintu. Aku mengintip
melalui jendela besar di samping pintu itu. Kosong. Rumahku kosong. Ayah belum
pulang.. Aku mencari kunci rumah di bawah karpet lalu memasuki rumah kosong
itu. Dan menunggu ayah pulang. Ternyata tidak ada senyuman. Tidak ada pelukan
hangat. Bahkan tidak ada ayam goreng. Aku pergi mandi dan duduk manis hingga
akhirnya aku tertidur di kursi kayu, menunggu ayah pulang.
Jam sebelas malam, aku terbangun dan tersadar bahwa aku
tertidur di kursi. Sudah ada selimut tipis yang menyelimutiku. Ayah pasti sudah pulang, pikirku. Aku
berlari ke ruang tamu yang kecil dan mendapati ayahku tertidur sangat pulas
dengan baju lusuh dan kotor yang masih dipakainya sejak tadi pagi. Aku
menyelimuti ayah dengan selimut tipis yang tadi ku pakai. Aku rindu sekali.
Padahal kami tinggal satu atap.
Aku pergi ke kamarku, menuju lemari tak berpintu karena
rusak untuk mengambil kaleng bekas kue untuk menyimpan sisa uang jajanku. Aku
menghitung uang itu. Dua puluh lima ribu rupiah. Aku menghela nafas, lalu aku pergi
tidur di ranjang kerasku.
¨¨¨
Pagi itu aku terburu-buru bangun karena teringat sudah
waktunya ayah pergi bekerja. “Ayah” Sapaku saat aku mendapati dia sedang
menyisir rambut ikalnya. “Kau sudah bangun, nak” Sepertinya ayahku kesiangan
karena dia terlihat buru-buru sekali. “Ayah hari ini kerja?” Ayahku hanya
mengangguk. “Berapa gaji ayah sehari?” “Tiga puluh ribu, nak. Kenapa? Ada yang
ingin kau beli?” Aku menggeleng. “Tidak bisakah ayah libur satu kali saja?”
“Tidak, nak. Kalau ayah libur, kamu mau makan apa nanti. Sudah ya, ayah
kesiangan. Ayah pergi dulu” Ayah pergi begitu saja. Aku nyaris tidak mengenal
ayahku sekarang. Dia seperti orang lain bagiku. Biasanya, pulang sekolah aku
dijemput ayah dan mampir membeli makanan ringan untuk bergadang menonton bola
saat malam libur. Ayah akan menggendongku ketika aku mendapat nilai tertinggi
di kelas. Dan dia selalu ada.. Dulu. Sekarang semuanya berubah.
Aku pergi menuju rumah tetanggaku untuk membantunya
menjaga warung. Aku menghabiskan waktu liburku untuk bekerja sampingan membantu
tetanggaku. Hanya pekerjaan ringan yang bisa dilakukan oleh anak umur dua belas
tahun. “Eh, nak Rangga. Sudah siap menjaga warung Ibu?” Bu Mirah sangat baik
padaku. Dia menemaniku saat ayah tidak ada di rumah. “Iya bu” Dengan semangat
aku masuk dan duduk di dalam warungnya. “Rangga. Ibu boleh tanya sesuatu, nak?”
Aku mengangguk sambil meladeni pembeli. “Untuk apa kamu bekerja? Kamu disuruh
ayahmu?” Aku menyimpan uang yang diberi pembeli tersebut dan berbalik menghadap
Bu Mirah. “Tidak. Aku hanya menghabiskan waktu liburan, bu. Kesal sekali kalau
diam terus di rumah. Di rumah sangat sepi” Jujur saja, memaksakan tersenyum
tidak semudah membalikkan tangan.
Malam itu, aku menunggu ayah di depan TV kecil dengan
memeluk buku raporku yang belum sempat aku perlihatkan pada ayah. Tidak lama,
ayah pulang dengan wajah letih yang sengaja disembunyikan. “Tumben ayah pulang
cepat?” Aku menghampiri ayah dan mencium tangannya. “Iya, ayah sedikit pusing.
Jadi ayah pulang lebih cepat agar bisa istirahat lebih lama” Dia memerhatikan
buku merah yang ada di pelukanku. “Apa itu, nak?” “Ini raporku, yah. Bu Guru
bilang, karena aku mendapat juara satu, aku bisa mengambil raporku walaupun
ayah tidak ke sekolah” Ayahku tertegun dan memelukku erat. “Selamat ya, nak.
Ayah bangga sama kamu” Aku hanya tersenyum. “Ayah. Aku kan sedang libur. Sepi
sekali di rumah. Rumah sekecil ini rasanya seperti besar saking kosongnya. Apa
ayah tidak bisa libur sehari saja?” Ayahku memandang lekat wajahku dan
menggeleng lemas. Lalu akupun pergi ke kamar menuju lemari bututku untuk
menghitung uang tabungan dalam kaleng. Dua pulih lima.. Tiga puluh.. Empat
puluh ribu. Aku tersenyum dan membawa uang tersebut keluar dan menghampiri
ayah. “Ayah. Kalau ayah punya uang, apa ayah bisa libur kerja? Sehari saja?”
Ayahku minum teh hangat dan memunggungiku. “Tentu. Asal cukup untuk makan kita,
nak” Ayah menyeruput teh panas tersebut. “Ayah.. Aku punya uang empat puluh
ribu. Apa itu cukup untuk membayar waktu ayah? Sehari saja, yah. Kalau kurang,
nanti aku tambah” Ayahku berbalik dengan wajah heran. “Apa maksudmu, nak?” Aku
menghela nafas. “Aku menabung untuk hari liburku, ayah. Aku meminta Bu Mirah
untuk mengijinkan aku bekerja menjaga warungnya. Awalnya dia menolak. Tapi aku
memaksa. Dan aku mendapatkan uang dari sana. Aku ingin menghabiskan waktu
bersama ayah. Walaupun hanya sehari” Ayahku menunggu aku menyelesaikan
penjelasanku. “Dan ayah bilang, ayah tidak bisa libur karena kalau tidak
bekerja, ayah tidak mendapatkan uang. Nah, sekarang, aku sudah mempunyai uang
empat puluh ribu. Apa itu cukup untuk membayar ayah untuk menemaniku sehari?
Minimal agar aku tidak merasa sendiri. Agar aku ingat aku masih mempunyai ayah”
Air mataku tak terasa menetes. Ayahku langsung memelukku erat. “Maaf, nak. Ayah
membuatmu kesepian selama ini. Ayah terlalu sibuk bekerja sampai ayah tidak
memikirkan kamu. Maaf, nak.. Ayah tidak akan terlalu sibuk. Ayah janji. Ayah
akan selalu ada buat kamu, anakku” Ayahku menangis di pelukkanku. “Aku sayang
ayah..” “Ayahpun menyayangimu, nak”
TAMAT