Kamis, 08 November 2012

Waktu Ayah yang Harus Kubayar


KRIIIING!! Suara jam membangunkan aku dari indahnya bunga tidur. Aku terbangun dan melihat ruangan di luar kamarku kosong melompong. Rumahku terasa kosong setelah kepergian ibuku. Aku merasa kesepian setelah di tinggal ibu. Aku adalah anak pertama dan satu-satunya. Aku tinggal dengan ayahku saat ini. Di rumah nyaris seperti gubuk yang tiap hujan aku harus menyediakan begitu banyak ember. Hanya dia yang aku punya.
            “Rangga, sekolah jam berapa? Kok jam segini baru bangun, nak? Ini sudah jam delapan pagi, loh” Ayahku yang berpakaian agak rapi dengan baju yang sudah lusuh menyapaku. Pekerjaan ayahku adalah kuli bangunan. Ayahku bekerja tak kenal lelah. Dia tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya itu. Namun, di sisi lain, aku sendiri. Aku masih duduk di bangku SD. “Jam sepuluh, ayah.. ayah sudah mau pergi bekerja ya?” Ayahku hanya mengangguk dan pergi meninggalkan kamarku. Aku terloncat dari tempat tidurku dan mengejar ayah karena teringat hari ini ada pembagian rapor di sekolahku. Kuhampiri ayah yang sedang sibuk mengaduk kopi yang ada di tangannya. “Ayah, hari ini aku dibagi rapor. Apa ayah bisa ke sekolahku? Guruku bilang, rapor harus diambil oleh orang tua” Ayahku berhanti mengaduk. Dia terdiam sejenak dan memandangiku. “Maaf, nak. Hari ini ayah harus kerja. Kalau tidak, kamu tidak bisa makan”. Aku sangat mengerti keadaan kami. Kami bukanlah orang yang terlahir dengan uang menumpuk di bank. Atau terlahir dari keturunan raja yang kekayaannya akan turun tujuh temurun. Kami hanyalah orang biasa. Yang mengenal keringat dan air mata. Tapi aku butuh ayah. Setidaknya aku ingin mempunyai waktu lebih bersamanya. “Ayah pergi kerja dulu ya, sayang” Ayah mencium keningku dan pergi meninggalkan aku. Aku melihat punggungnya yang bidang berlalu sampai akhrinya hilang.
¨¨¨
            “Rangga” Guruku memanggil namaku. Kini giliranku untuk mengambil rapor. Aku maju menghampiri Guru ku dengan wajah muram. “Maaf, bu Guru. Ayahku tidak bisa datang untuk mewakili pengambilan rapor” Guruku hanya tersenyum. “Tidak apa-apa. Karena kamu juara pertama, Ibu Guru memberikan pengecualian untuk kamu. Kamu bisa mengambil rapormu sekarang” Aku senang sekali mendengarnya. “Terimakasih, Bu Guru” Aku sudah tidak sabar memberitahu hal ini pada ayah.
            Sore itu aku pulang dengan wajah riang masih terpampang di wajahku. Membayangkan ketika aku membuka pintu akan ada ayah yang menyambutku dengan senyuman. Atau pelukan hangat. Dan ayam goreng kesukaan kami, yang tentu saja jarang kami makan. Aku berbelok memasuki gang sempit dimana rumahku tersembunyi antara gedung-gedung tinggi. Jantungku semakin berdebar ketika kakiku menginjak teras rumah. Ku ketuk pintu berwarna coklat rumahku “Ayah! Ayah!” Aku memanggil ayah untuk membukakan pintu. Aku mengintip melalui jendela besar di samping pintu itu. Kosong. Rumahku kosong. Ayah belum pulang.. Aku mencari kunci rumah di bawah karpet lalu memasuki rumah kosong itu. Dan menunggu ayah pulang. Ternyata tidak ada senyuman. Tidak ada pelukan hangat. Bahkan tidak ada ayam goreng. Aku pergi mandi dan duduk manis hingga akhirnya aku tertidur di kursi kayu, menunggu ayah pulang.
            Jam sebelas malam, aku terbangun dan tersadar bahwa aku tertidur di kursi. Sudah ada selimut tipis yang menyelimutiku. Ayah pasti sudah pulang, pikirku. Aku berlari ke ruang tamu yang kecil dan mendapati ayahku tertidur sangat pulas dengan baju lusuh dan kotor yang masih dipakainya sejak tadi pagi. Aku menyelimuti ayah dengan selimut tipis yang tadi ku pakai. Aku rindu sekali. Padahal kami tinggal satu atap.
            Aku pergi ke kamarku, menuju lemari tak berpintu karena rusak untuk mengambil kaleng bekas kue untuk menyimpan sisa uang jajanku. Aku menghitung uang itu. Dua puluh lima ribu rupiah. Aku menghela nafas, lalu aku pergi tidur di ranjang kerasku.
¨¨¨
            Pagi itu aku terburu-buru bangun karena teringat sudah waktunya ayah pergi bekerja. “Ayah” Sapaku saat aku mendapati dia sedang menyisir rambut ikalnya. “Kau sudah bangun, nak” Sepertinya ayahku kesiangan karena dia terlihat buru-buru sekali. “Ayah hari ini kerja?” Ayahku hanya mengangguk. “Berapa gaji ayah sehari?” “Tiga puluh ribu, nak. Kenapa? Ada yang ingin kau beli?” Aku menggeleng. “Tidak bisakah ayah libur satu kali saja?” “Tidak, nak. Kalau ayah libur, kamu mau makan apa nanti. Sudah ya, ayah kesiangan. Ayah pergi dulu” Ayah pergi begitu saja. Aku nyaris tidak mengenal ayahku sekarang. Dia seperti orang lain bagiku. Biasanya, pulang sekolah aku dijemput ayah dan mampir membeli makanan ringan untuk bergadang menonton bola saat malam libur. Ayah akan menggendongku ketika aku mendapat nilai tertinggi di kelas. Dan dia selalu ada.. Dulu. Sekarang semuanya berubah.
            Aku pergi menuju rumah tetanggaku untuk membantunya menjaga warung. Aku menghabiskan waktu liburku untuk bekerja sampingan membantu tetanggaku. Hanya pekerjaan ringan yang bisa dilakukan oleh anak umur dua belas tahun. “Eh, nak Rangga. Sudah siap menjaga warung Ibu?” Bu Mirah sangat baik padaku. Dia menemaniku saat ayah tidak ada di rumah. “Iya bu” Dengan semangat aku masuk dan duduk di dalam warungnya. “Rangga. Ibu boleh tanya sesuatu, nak?” Aku mengangguk sambil meladeni pembeli. “Untuk apa kamu bekerja? Kamu disuruh ayahmu?” Aku menyimpan uang yang diberi pembeli tersebut dan berbalik menghadap Bu Mirah. “Tidak. Aku hanya menghabiskan waktu liburan, bu. Kesal sekali kalau diam terus di rumah. Di rumah sangat sepi” Jujur saja, memaksakan tersenyum tidak semudah membalikkan tangan.
            Malam itu, aku menunggu ayah di depan TV kecil dengan memeluk buku raporku yang belum sempat aku perlihatkan pada ayah. Tidak lama, ayah pulang dengan wajah letih yang sengaja disembunyikan. “Tumben ayah pulang cepat?” Aku menghampiri ayah dan mencium tangannya. “Iya, ayah sedikit pusing. Jadi ayah pulang lebih cepat agar bisa istirahat lebih lama” Dia memerhatikan buku merah yang ada di pelukanku. “Apa itu, nak?” “Ini raporku, yah. Bu Guru bilang, karena aku mendapat juara satu, aku bisa mengambil raporku walaupun ayah tidak ke sekolah” Ayahku tertegun dan memelukku erat. “Selamat ya, nak. Ayah bangga sama kamu” Aku hanya tersenyum. “Ayah. Aku kan sedang libur. Sepi sekali di rumah. Rumah sekecil ini rasanya seperti besar saking kosongnya. Apa ayah tidak bisa libur sehari saja?” Ayahku memandang lekat wajahku dan menggeleng lemas. Lalu akupun pergi ke kamar menuju lemari bututku untuk menghitung uang tabungan dalam kaleng. Dua pulih lima.. Tiga puluh.. Empat puluh ribu. Aku tersenyum dan membawa uang tersebut keluar dan menghampiri ayah. “Ayah. Kalau ayah punya uang, apa ayah bisa libur kerja? Sehari saja?” Ayahku minum teh hangat dan memunggungiku. “Tentu. Asal cukup untuk makan kita, nak” Ayah menyeruput teh panas tersebut. “Ayah.. Aku punya uang empat puluh ribu. Apa itu cukup untuk membayar waktu ayah? Sehari saja, yah. Kalau kurang, nanti aku tambah” Ayahku berbalik dengan wajah heran. “Apa maksudmu, nak?” Aku menghela nafas. “Aku menabung untuk hari liburku, ayah. Aku meminta Bu Mirah untuk mengijinkan aku bekerja menjaga warungnya. Awalnya dia menolak. Tapi aku memaksa. Dan aku mendapatkan uang dari sana. Aku ingin menghabiskan waktu bersama ayah. Walaupun hanya sehari” Ayahku menunggu aku menyelesaikan penjelasanku. “Dan ayah bilang, ayah tidak bisa libur karena kalau tidak bekerja, ayah tidak mendapatkan uang. Nah, sekarang, aku sudah mempunyai uang empat puluh ribu. Apa itu cukup untuk membayar ayah untuk menemaniku sehari? Minimal agar aku tidak merasa sendiri. Agar aku ingat aku masih mempunyai ayah” Air mataku tak terasa menetes. Ayahku langsung memelukku erat. “Maaf, nak. Ayah membuatmu kesepian selama ini. Ayah terlalu sibuk bekerja sampai ayah tidak memikirkan kamu. Maaf, nak.. Ayah tidak akan terlalu sibuk. Ayah janji. Ayah akan selalu ada buat kamu, anakku” Ayahku menangis di pelukkanku. “Aku sayang ayah..” “Ayahpun menyayangimu, nak”

TAMAT

1 komentar: