Kamu tahu, bagaimana sebuah lagu begitu sangat menusukku? Tidak ada yang spesial dalam liriknya. Tidak ada yang aneh dalam nadanya. Semuanya begitu biasa saja. Tapi kenangan bersama lagu itu.. Aku tidak tahan.
Lucu bukan, bagaimana sebuah lagu bisa saja membunuhmu..
kool kat
Selasa, 08 April 2014
Senin, 31 Maret 2014
Selamat Pagi, Embun :)
Selamat pagi, embun. Terimakasih karena kamu masih
ada menungguku. Jujur saja, aku jadi menyukai pagi karena kamu. Hahah. Maaf aku
sering mengeluh tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Aku janji, aku
akan lebih kuat. Kamu pernah bilang, mencintai dengan banyak tersakiti itu akan
indah pada akhirnya. Aku bukanlah salah satunya. Kamu percaya, lama kelamaan
aku benar-benar muak. Aku tidak mau lagi. Tidak mau lagi mencintai orang lain.
Cukup keluarga dan sahabatku saja. Dan kamu, embun.
Embun, andai kamu itu ada. Seperti apa ya, rupamu?
Aku.. Ingin sekali memelukmu. Menangis pada pundakmu. Aku ingin berterimakasih
karena kamu satu-satunya yang tidak protes atas cerita haru ku. Kamu sendiri
tahu, aku ini tidak seperti orang kebanyakan. Mereka normal, maksudku. Tapi
percayalah, menjadi normal itu membosankan. Aku tidak tahan. Tapi walaupun
begitu, apa yang ada di dalam diriku itu normal. Aku bisa merasakan bagaimana
rasanya sakit hati. Ah, andai hatiku juga tidak normal. Mungkin akan lebih
menyenangkan untuk menjalani hidup.
Hey, kamu tahu? Aku sangat merindukan seseorang pagi
ini. Bukan, bukan dia. Jika kamu bertanya, aku pun tidak tahu. Aneh ya? Aku juga tidak mengerti. Aku selalu bermimpi tentang orang itu. Tapi aku tidak tahu
siapa dia. Dan kenapa dia ada di mimpiku. Mimpi indah dan mimpi burukku.
Sedikit mengerikan, memang. Tapi aku akui aku merindukannya pagi ini.
Minggu, 30 Maret 2014
Kepada Embun, Temanku..
Halo, aku ingin bercerita dengan embun.
Hey embun, apa kamu tahu? Hatiku ini sebenarnya tidak sekuat senyumanku. Tolong jangan katakan ini pada siapapun ya. Bukannya aku sok tegar. Aku hanya tidak ingin melihat teman-temanku bersusah payah untuk menghiburku lalu membuatku tersenyum. Sebenarnya aku malu. Bukannya menghibur mereka, malah aku yang dihibur mereka. Teman macam apa aku ini?
Mmm.. Embun, kamu temanku, kan? Tolong jangan hentikan pagi ini. Aku tidak mau dekat-dekat dengan malam. Malam begitu menyebalkan. Lihat saja, mataharipun tidak ingin bermain dengan sang malam. Aku benar-benar tidak mau bertemu dengannya. Karena malam, adalah ketika aku menyadari bahwa tidak ada siapa-siapa untukku, itupun jika kamu bertanya. Bohong jika aku tidak sedih. Kamu pasti tahu bagaimana rasanya dipermalukan. Bagaimana rasanya menunggu hingga kamu ingin berteriak. Dan kamu sadar tidak akan ada yang mendengar teriakanmu. Seperti itu lah aku sekarang.
Embun, aku punya banyak sahabat yang mendorongku begitu kuat. Menarikku hingga berdiri. Saat ini, yang aku ingin adalah berlari, menemukan mereka, dan memeluk mereka. Tapi itu hanya akan membuat air mataku jatuh. Aku tidak bisa membiarkan mereka melihatnya. aku tidak sanggup.
Jadi kamu, embun temanku. Jika kamu bertemu mereka, tolong katakan aku baik-baik saja :)
Hey embun, apa kamu tahu? Hatiku ini sebenarnya tidak sekuat senyumanku. Tolong jangan katakan ini pada siapapun ya. Bukannya aku sok tegar. Aku hanya tidak ingin melihat teman-temanku bersusah payah untuk menghiburku lalu membuatku tersenyum. Sebenarnya aku malu. Bukannya menghibur mereka, malah aku yang dihibur mereka. Teman macam apa aku ini?
Mmm.. Embun, kamu temanku, kan? Tolong jangan hentikan pagi ini. Aku tidak mau dekat-dekat dengan malam. Malam begitu menyebalkan. Lihat saja, mataharipun tidak ingin bermain dengan sang malam. Aku benar-benar tidak mau bertemu dengannya. Karena malam, adalah ketika aku menyadari bahwa tidak ada siapa-siapa untukku, itupun jika kamu bertanya. Bohong jika aku tidak sedih. Kamu pasti tahu bagaimana rasanya dipermalukan. Bagaimana rasanya menunggu hingga kamu ingin berteriak. Dan kamu sadar tidak akan ada yang mendengar teriakanmu. Seperti itu lah aku sekarang.
Embun, aku punya banyak sahabat yang mendorongku begitu kuat. Menarikku hingga berdiri. Saat ini, yang aku ingin adalah berlari, menemukan mereka, dan memeluk mereka. Tapi itu hanya akan membuat air mataku jatuh. Aku tidak bisa membiarkan mereka melihatnya. aku tidak sanggup.
Jadi kamu, embun temanku. Jika kamu bertemu mereka, tolong katakan aku baik-baik saja :)
Aku Ingin Percaya
Ini pagi kesekian kalinya aku dipaksa untuk ingat bahwa aku hanya sendiri. Kondisi ini memaksaku untuk membencimu. Sedangkan yang aku ingin adalah kembali pada saat pertama kalinya kamu berhasil membuatku tersenyum. Bahkan di hari senin pagi.
Mengingat semuanya berubah.. Aku sedikit ragu. Tapi apa kamu percaya, aku ini masih ingin mempercayaimu. Masa bodoh dengan apa yang dikatakan orang. Aku hanya ingin percaya padamu. Iya. Hanya kamu. Bisakah?
Mengingat semuanya berubah.. Aku sedikit ragu. Tapi apa kamu percaya, aku ini masih ingin mempercayaimu. Masa bodoh dengan apa yang dikatakan orang. Aku hanya ingin percaya padamu. Iya. Hanya kamu. Bisakah?
Sabtu, 29 Maret 2014
Aku dan Kamu, Hari Itu
Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu untukku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku RT layaknya Twit di Twitter.
Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu diciptakan berpasangan
denganku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku klik kanan lalu copy.
Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu digariskan untuk sejalan
denganku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku masukan mesin photocopy.
Aku : Bagaimana kamu bisa sampai disini?
Kamu : Karena kamu ada.
Aku : Kalau aku tidak ada?
Kamu : Aku tidak disini.
Aku : Lalu kamu dimana?
Kamu : Bisa jadi aku disana, di apung-apungkan diatas
permukaan air laut. Bisa jadi aku disana, di pantulkan kaca spion mobil. Bisa
jadi aku disana, terbang di langit mencari ikan. Yang pasti tidak disini.
Disampingmu.
Aku : Kamu jadi apa?
Kamu : Ikan, atau bayang-bayang, atau bahkan burung camar.
Aku : Tapi kamu memilih disini.
Kamu : Ya, aku disini.
Aku : Kenapa?
Kamu : Hahah. Siapa yang mau jadi ikan? yang tidak bisa
berkedip, dan mulutnya cuma monyong dan mengatup-ngatup sepertimu! (sambil
menarik bibirku, dan aku menggebuk pelan lenganmu)
Siapa yang mau jadi bayang-bayang? yang ketika malam
datang ia harus hilang.Siapa yang mau jadi burung camar? yang bisa
terpekik-pekik karena kelaparan, seperti kamu! (aku mencubitmu, dan kamu hanya
tertawa).
Aku : Alasanmu itu aneh! yang lebih logis bisa?
Kamu : Logis itu rumit. Panjang. Susah diterka. Banyak
alasannya.
Aku : Ayolah.. logis itu realita.
Kamu : Lho? kok tiba-tiba kamu suka realita? bukannya kamu
tukang ngarang ya?
Aku : Jangan mulai...
Kamu : Hahah. Bagaimana...
Aku : Apa?
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi 'point of your attention'
?
Aku : Jadi lah titik.
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi pilihanmu?
Aku : Mau lah untuk di pilih.
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi hari ini dan masa depanmu?
Aku : Cukup jadi kamu.
Kamu : Ajari.
Aku : Tidak bisa.
Kamu : Kenapa?
Aku : Buat apa aku mengajari jadi orang lain yang bukan
aku?
Kamu : Karena kamu pun akan memerlukan orang lain itu.
Aku : Bagaimana bisa?
Kamu : Siapa yang mau mendengar kamu merengek kelaparan
kalau malam? Siapa yang mau mendengar kamu cerita banyak hal tentang orang yang
memilih untuk menyakitimu? Siapa yang mau mendengar kamu menangis seperti anak
hilang?
Aku : Kamu..
Kamu : Kamu butuh kan?
Aku : Ya. Sangat.
Kamu : Kamu butuh, tapi kamu tidak mau mengajari.
Aku : Untuk apa?
Kamu : Untuk kamu.
Aku : Apa yang harus aku ajarkan?
Kamu : Ajari aku mencintaimu, lagi.
Aku : Alasanmu itu aneh! yang lebih logis bisa?
Jumat, 28 Maret 2014
Hey Embun, Dulu Aku Punya Pagi yang Menyenangkan!
Selamat pagi, embun. Apa kamu tahu?
Dulu, aku mempunyai pagi dimana pagiku itu menyenangkan bagiku. Sangat menyenangkan. Dimana aku, baru saja membuka mata dan mendapat sapaan 'selamat pagi' darinya. Ya. Dulu.
Dan.. Hey, kamu. Masih di sana? Masih mau mengucapkan selamat pagi untukku? Aku ingin tersenyum seperti pagi itu.
Dulu, aku mempunyai pagi dimana pagiku itu menyenangkan bagiku. Sangat menyenangkan. Dimana aku, baru saja membuka mata dan mendapat sapaan 'selamat pagi' darinya. Ya. Dulu.
Dan.. Hey, kamu. Masih di sana? Masih mau mengucapkan selamat pagi untukku? Aku ingin tersenyum seperti pagi itu.
Langganan:
Postingan (Atom)