Sabtu, 29 Maret 2014

Aku dan Kamu, Hari Itu

Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu untukku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku RT layaknya Twit di Twitter.
Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu diciptakan berpasangan denganku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku klik kanan lalu copy.
Aku : Bagaimana aku tahu kamu itu digariskan untuk sejalan denganku?
Kamu : Pertanyaanmu pun akan ku masukan mesin photocopy.
Aku : Bagaimana kamu bisa sampai disini?
Kamu : Karena kamu ada.
Aku : Kalau aku tidak ada?
Kamu : Aku tidak disini.
Aku : Lalu kamu dimana?
Kamu : Bisa jadi aku disana, di apung-apungkan diatas permukaan air laut. Bisa jadi aku disana, di pantulkan kaca spion mobil. Bisa jadi aku disana, terbang di langit mencari ikan. Yang pasti tidak disini. Disampingmu.
Aku : Kamu jadi apa?
Kamu : Ikan, atau bayang-bayang, atau bahkan burung camar.
Aku : Tapi kamu memilih disini.
Kamu : Ya, aku disini.
Aku : Kenapa?
Kamu : Hahah. Siapa yang mau jadi ikan? yang tidak bisa berkedip, dan mulutnya cuma monyong dan mengatup-ngatup sepertimu! (sambil menarik bibirku, dan aku menggebuk pelan lenganmu)
Siapa yang mau jadi bayang-bayang? yang ketika malam datang ia harus hilang.Siapa yang mau jadi burung camar? yang bisa terpekik-pekik karena kelaparan, seperti kamu! (aku mencubitmu, dan kamu hanya tertawa).

Aku : Alasanmu itu aneh! yang lebih logis bisa?
Kamu : Logis itu rumit. Panjang. Susah diterka. Banyak alasannya.
Aku : Ayolah.. logis itu realita.
Kamu : Lho? kok tiba-tiba kamu suka realita? bukannya kamu tukang ngarang ya?
Aku : Jangan mulai...
Kamu : Hahah. Bagaimana...
Aku : Apa?
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi 'point of your attention' ?
Aku : Jadi lah titik.
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi pilihanmu?
Aku : Mau lah untuk di pilih.
Kamu : Bagaimana aku bisa menjadi hari ini dan masa depanmu?
Aku : Cukup jadi kamu.
Kamu : Ajari.
Aku : Tidak bisa.
Kamu : Kenapa?
Aku : Buat apa aku mengajari jadi orang lain yang bukan aku?
Kamu : Karena kamu pun akan memerlukan orang lain itu.
Aku : Bagaimana bisa?
Kamu : Siapa yang mau mendengar kamu merengek kelaparan kalau malam? Siapa yang mau mendengar kamu cerita banyak hal tentang orang yang memilih untuk menyakitimu? Siapa yang mau mendengar kamu menangis seperti anak hilang?
Aku : Kamu..
Kamu : Kamu butuh kan?
Aku : Ya. Sangat.
Kamu : Kamu butuh, tapi kamu tidak mau mengajari.
Aku : Untuk apa?
Kamu : Untuk kamu.
Aku : Apa yang harus aku ajarkan?
Kamu :
Ajari aku mencintaimu, lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar