Selasa, 31 Januari 2012

JNGKRIK

Tentunya, anda pernah mendengar suara jangkrik. Krik.. Krik.. krik. Suara jangkrik dihasilkan oleh gesekan dengan sudut 45 derajat antara sayap kanan dan kiri yang berada pada mesotorak. Pada bagian sayap yang bergesek tersebut terdapat gigi-gerigi yang berjumlah antara 50-300 sehingga terdengar suara krik. Suara krik tersusun atas syllables, dan satu seri krik disebut trill. Hanya jangkrik jantan yang dapat mengeluarkan suara. Ada empat tipe suara jangkrik yang digunakan untuk kondisi tertentu, yaitu memanggil betina, ketika akan kawin, setelah kawin dan memberi peringatan kepada jantan lain.
    Suara jangkrik tergantung pada jenis dan suhu lingkungannya. Jumlah suara krik (chirp) akan meningkat bila suhu lingkungan meningkat. Hubungan antara dan jumlah krik dikenal sebagai Hukum Dolbear. Berdasarkan hukum ini, dimungkinkan untuk menghitung suhu dalam Fahrenheit dengan menambahkan angka 40 dari krik yang dihasilkan dalam 15 detik oleh jangkrik pohon salju di Amerika Serikat.

Laut Asam, Telinga Bertambah Besar

Karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan lautan menjadi asam ternyata mengakibatkan telinga ikan bertambah besar ukurannya. Telinga ikan tidak terlihat karena berada di dalam tubuhnya. Seperti pada manusia, telinga ikan juga berfungsi mengatur gerakan. Ahli biologi oseanografi, David M Chekley dari The Scripps Intitution of Oceanography di University of California, San Diego, melakukan percobaan, membesarkan ikan bas di perairan dengan kandungan CO2 enam kali lipat level normal. Ternyata otolit (tulang kuping) ikan tumbuh 15-17 persen lebih besar dari ukuran normal.
    Percobaan lalu dilakukan pada air laut dengan kandungan Co2 sebesar 3,5 kali lipat kandungan normal – perkiraan kandungan CO2 pada tahun 2100 – ternyata otolit ikan membesar 7-9 persen. Penelitian selanjutnya adalah untuk mengetahui adakah dampak jangka panjang kondisi tersebut pada ikan. (ISW)

Kamis, 26 Januari 2012

Pinta

Aku : Kau tahu siapa tangan kanan Tuhan yang paling nyata di dunia?
Kau : Siapa? Ibu?
Aku : Lalu ayahmu kau lupakan?    
Kau : Ibu dan ayah.
Aku : Itu baru lengkap.
Kau : Ya.
Aku : Apa kau berani menantang Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Apa kau berani membangkang Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Apa kau berani menyakiti Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Lalu apa beranimu?
Kau : Aku tidak punya daya dihadapan Tuhan. Aku lemah.
Aku : Lalu.. kau berani mengaku-ngaku bahwa kau berani? Apa beranimu?
Kau : Tidak ... ada.
Aku : Lalu.. kau berani berdiri menopang dagu diatas sajadah, tanpa hijab atau sarung, tanpa wudhu, dengan bibir berucap bahwa kau itu kuat? berkuasa?
Kau : Aku ...
Aku : Apa yang salah dari sholat?
Kau : Tidak ada yang salah.
Aku : Kau merasa tidak diberkahi oleh Tuhan?
Kau : Tidak, aku tidak merasa tidak diberkahi. Aku diberkahi.
Aku : Kau punya semuanya?
Kau : Ya, aku punya.
Aku : Tidak. Kau salah. Semua bukan milikmu. Itu milik Tuhanmu. Jawab pertanyaanku, Siapa tangan kanan Tuhan di dunia?
Kau : Ayah dan Ibu.
Aku : Kalau kau merasa memiliki semuanya, sekarang jawab, siapa yang membuat kau ada dan kemudian pada akhirnya kau memiliki segalanya?
Kau : Tuhan, Ayah dan Ibu ..
Aku : Sekarang, apa kau memiliki segalanya tanpa mereka?
Kau : ... tidak
Aku : Kau pasti pernah sholat kan?
Kau : Ya.
Aku : Pertanyaan terakhirku, kalau kau merasa sudah memiliki segalanya, apa yang kau lakukan sesudah sholat? Kau bersimpuh bahkan bersujud. Untuk apa? Berdoa. Meminta. Lalu apa itu artinya kau punya segalanya?
Kau : ...

Senin, 16 Januari 2012

Tanpaku..

Sabtu itu kau pergi. Sementara, namun rinduku tak mampu ku bendung. “Aku pergi ya. Dadah” Kau memeletkan lidahmu. Kucubit lembut lenganmu, “Biar, kan masih banyak yang lain” Aku pun melakukan hal yang sama. Dan kau memasang tampang cemberutmu. Lucu. “Yasudah” Dengan muka cemberutmu kau lepas tanganku. “Haha. Kan hanya bercanda” Ku rangkul kembali lenganmu. Hening. “Jangan macam macam di sana” Kataku. “Kan, kau ‘masih banyak’ di sini” Balasnya. “Ayolah, itukan hanya bercanda” Bujukku. Kau hanya tersenyum. Beberapa hari ini aku akan sendiri, batinku. Cepatlah pulang. Janjikan kau akan ada disetiap detik dihariku.
 
Hari keberangkatanmu. Entah dari mana awalnya, mungkin aku tak sengaja berbuat kesalahan. Entah dari kapan kau mulai berubah. Atau mungkin aku yang berubah.. Aku sedikit menyesal karenanya. Kau akan pergi. Sedangkan aku merusak suasana. Maafkan aku..
Kau pamit untuk pergi ke kota metropolitan. “Bukit bintaaaaang!” Ponselku tiba tiba mengalun dengan lagu This Way-nya Depapepe. “Kau menikmatinya tanpa aku” Sending sms. “Siapa bilang? Kau ada disini. Di hatiku” Balasmu. “Terlalu berlebihan” Walaupun sebenarnya aku senang sekali. “Kau sendiri yang mengajariku” Aku hanya tersenyum. Aku rindu. Tepat satu minggu yang lalu, aku dan kau menikmati Bukit Bintang bersama. Dan sekarang, kau menikmatinya sendiri. Tanpa aku. Curang. Haha. Teringat padamu, aku mengirim pesan singkat. “Sedang apa?” Sending sms. “Di pantai. Jembatan ancol. Sunset. Andai kau di sini..” Balasnya kilat. “Titip saja keindahan itu. Dan cepatlah pulang. Aku pun ingin menikmatinya walau sekedar cerita. Cepatlah pulang.” Kau menikmati keindahan alam tanpaku lagi.. Batinku. “Cepatlah hari sabtu. Aku rindu sekali” Balasmu. “Rindu parah! Haha”
 
Dan malam ini kau pulang.. Sekarang aku menunggu 6 hari. Masih menunggu. Tapi setidaknya kau pulang malam ini..

Minggu, 15 Januari 2012

Kangen :)

Kangen itu indah ya? Dia bisa membawa hati melewati palung terjal bernama perasaan. Dia bisa membuat hati berasa sangat panjang karena tak juga bertemu orang yang paling disayang. Dia bisa membuat kita sadar bahwa ternyata ada seseorang yang ingin kita jaga dan kita sayang.

Bukit bintang :D

Liburan! Ya. Akhirnya saya dapat berteriak hal menyenangkan itu. Upik, panggilan kecilku untuk seseorang yang berarti dalam hidupku, ikut serta dalam liburan kali ini. Tak dapat saya gambarkan betapa bahagianya saya hingga dapat merasakannya sampai ke perut. Pagi itu saya menjemputnya. Meraungi jalanan yang kosong karena masih terlalu pagi. Nyaman sekali suasana pagi itu. Melewati kota tanpa kotornya polusi. Dingin dan bersih. Hh.. Andai suasana seperti ini dapat ku nikmati dalam waktu yang lama.

Saya, Upik, dan teman teman saya sudah berkumpul di rumah. Ada Kimi, Ame, Key, Ipeh, Rin, Chie, dan Denot. Suasana rumah saya begitu hangat walau diluar sangat dingin. Kehangatan itu disebabkan oleh suasana yang kami ciptakan. Tertawa, saling meledek, dan ngobrol. Kami pun berangkat. Menuju kota Paris Van Java. Alunan musik tak hentinya menemani kami selama perjalanan. Tak lepas dari ledek meledek, menciptakan tawa yang membahana dalam mobil. Masing masing dari kami sangat menikmati perjalanan tersebut.

Kepatihan! Tempat yang kami kunjungi sesampainya di kota kembang. Kami melihat lihat kaca mata yang dijajakan oleh para pedagang. Saya melihat orang lalu lalang de depan saya. Keramaian kota, antusias pembeli dan pedagang, kegirangan teman teman saya karena mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka senang.

Villa Bunga Lembang. Ahh.. Lelah sekali rasanya setelah seharian jalan-jalan. Saya merapikan pakaian saya dalam tas, mengambik handuk, dan pergi untuk menunaikan tugas mulia.. Mandi. Heheheh. Air dingin itu mengguyur seluruh tubuhku. Dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Dan air dingin itu mengalir ke tempat dimana ia akan di daur ulang. Segar sekali rasanya mandi dengan air dingin, malam malam di tempat paling tinggi di kota Bandung. Saya ikut berkumpul dengan yang lain. Saya ambilkan gitar untuk kami bernyanyi. Bukan. Tentu saja bukan saya yang memainkan gitar tersebut. Upik mengambil gitar dari lenganku dan mulai memetik beberapa senar. Nada nada yang dimainkannya sangat rapi. Tanpa orang lain ketahui, jika ia memainkan sebuah lagu dengan petikan yang khas, saya akan tenggelam bersama alunan melodi yang terdengar. Entah karena merasa ia spesial atau memang permainan gitarnya sangat enak di dengar. Tapi, ya. Harus saya akui. Ia adalah musisi favorit saya. Kami bernyanyi sambil menunggu waktu dimana kami akan menikmati kota Bandung di malam hari.

Upik tertidur di sebelah saya. Begitu lucunya dia. Sampai sampai saya tidak ingin mengalihkan pandangan dari wajah polosnya saat tidur. Saya menikmati suara yang berbisik pada radio yang volume nya sengaja di minimkan. Upik terbangun, dan tersenyum ketika melihatku tersenyum padanya. Kecepatan 40 km/jam kami melaju. Terlalu cepat untuk bisa menikmati indahnya Bandung malam. Dan saat kecepatan dikurangi, saya teringat satu hal terkait Bandung dan malam. Bukit Bintang. Saya mencari cari dimana saya dapat melihat Bukit Bintang. Tapi ternyata yang terlihat hanya kendaraan dan keramaian. Kami terjebak macet ternyata. Selepasnya dari macet, saya menerawang melalui jendela mobil. Ah! Bukit Bintang! Saya melihat cahaya kerlap kerlip pada bukit yang gelap. Cahaya yang berasal dari lampu rumah penduduk. Hingga kelihatan seperti bukit yang berbintang. Begitulah kenapa saya menamainya Bukit Bintang. Indah sekali. Ditambah ada Upik yang menemaniku menikmati Bukit Bintang. Saya sudah membayangkan dapat melihat bukit itu bersama orang yang spesial. Dan kemarin, harapan saya menjadi nyata. Saya menikmatinya. Bersama orang yang paling spesial. Tak menyangka hingga saat ini harapan saya akan terkabul. Upik.. Dan Bukit Bintang. Kenangan yang tak mungkin lepas dari memori otak saya..

Jumat, 13 Januari 2012

Cemburu..

Dia: Kau tahu? Aku butuh kau.
Aku: Untuk?
Dia: Segala hal.
Aku: Kau tahu aku ini untukmu.
Dia: Tapi..
Aku: Apa?
Dia: Ada hal yang mengganjal.
Aku: Apa itu?
Dia: Tidak. Lupakan.
Aku: Cerita sajalah.
Dia: Aku rindu.
Aku: Haynya itu?
Dia: Ya.
Aku: Lalu.. Apa yang mengganjal?
Dia: Tidak. Lupakan saja,
Aku: Ayolah..
Dia: Aku.. Hanya.. Cemburu. Aku adalha orang yang mudah cemburu. Ya, setidaknya untuk saat ini. Tapi hanya kau. Tidak pada yang lain. Maaf..
Aku: Maaf?
Dia: Sikapku aneh jika cemburu.
Aku: Tidak masalah.
Dia: Kau.. Tidak keberatan?
Aku: Tidak.
Dia: Kenapa?
Aku: Untuk apa? Karena aku tahu arti cemburu mu. Cemburu mu adalah sayang mu.. :)