Kamis, 08 November 2012

Waktu Ayah yang Harus Kubayar


KRIIIING!! Suara jam membangunkan aku dari indahnya bunga tidur. Aku terbangun dan melihat ruangan di luar kamarku kosong melompong. Rumahku terasa kosong setelah kepergian ibuku. Aku merasa kesepian setelah di tinggal ibu. Aku adalah anak pertama dan satu-satunya. Aku tinggal dengan ayahku saat ini. Di rumah nyaris seperti gubuk yang tiap hujan aku harus menyediakan begitu banyak ember. Hanya dia yang aku punya.
            “Rangga, sekolah jam berapa? Kok jam segini baru bangun, nak? Ini sudah jam delapan pagi, loh” Ayahku yang berpakaian agak rapi dengan baju yang sudah lusuh menyapaku. Pekerjaan ayahku adalah kuli bangunan. Ayahku bekerja tak kenal lelah. Dia tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya itu. Namun, di sisi lain, aku sendiri. Aku masih duduk di bangku SD. “Jam sepuluh, ayah.. ayah sudah mau pergi bekerja ya?” Ayahku hanya mengangguk dan pergi meninggalkan kamarku. Aku terloncat dari tempat tidurku dan mengejar ayah karena teringat hari ini ada pembagian rapor di sekolahku. Kuhampiri ayah yang sedang sibuk mengaduk kopi yang ada di tangannya. “Ayah, hari ini aku dibagi rapor. Apa ayah bisa ke sekolahku? Guruku bilang, rapor harus diambil oleh orang tua” Ayahku berhanti mengaduk. Dia terdiam sejenak dan memandangiku. “Maaf, nak. Hari ini ayah harus kerja. Kalau tidak, kamu tidak bisa makan”. Aku sangat mengerti keadaan kami. Kami bukanlah orang yang terlahir dengan uang menumpuk di bank. Atau terlahir dari keturunan raja yang kekayaannya akan turun tujuh temurun. Kami hanyalah orang biasa. Yang mengenal keringat dan air mata. Tapi aku butuh ayah. Setidaknya aku ingin mempunyai waktu lebih bersamanya. “Ayah pergi kerja dulu ya, sayang” Ayah mencium keningku dan pergi meninggalkan aku. Aku melihat punggungnya yang bidang berlalu sampai akhrinya hilang.
¨¨¨
            “Rangga” Guruku memanggil namaku. Kini giliranku untuk mengambil rapor. Aku maju menghampiri Guru ku dengan wajah muram. “Maaf, bu Guru. Ayahku tidak bisa datang untuk mewakili pengambilan rapor” Guruku hanya tersenyum. “Tidak apa-apa. Karena kamu juara pertama, Ibu Guru memberikan pengecualian untuk kamu. Kamu bisa mengambil rapormu sekarang” Aku senang sekali mendengarnya. “Terimakasih, Bu Guru” Aku sudah tidak sabar memberitahu hal ini pada ayah.
            Sore itu aku pulang dengan wajah riang masih terpampang di wajahku. Membayangkan ketika aku membuka pintu akan ada ayah yang menyambutku dengan senyuman. Atau pelukan hangat. Dan ayam goreng kesukaan kami, yang tentu saja jarang kami makan. Aku berbelok memasuki gang sempit dimana rumahku tersembunyi antara gedung-gedung tinggi. Jantungku semakin berdebar ketika kakiku menginjak teras rumah. Ku ketuk pintu berwarna coklat rumahku “Ayah! Ayah!” Aku memanggil ayah untuk membukakan pintu. Aku mengintip melalui jendela besar di samping pintu itu. Kosong. Rumahku kosong. Ayah belum pulang.. Aku mencari kunci rumah di bawah karpet lalu memasuki rumah kosong itu. Dan menunggu ayah pulang. Ternyata tidak ada senyuman. Tidak ada pelukan hangat. Bahkan tidak ada ayam goreng. Aku pergi mandi dan duduk manis hingga akhirnya aku tertidur di kursi kayu, menunggu ayah pulang.
            Jam sebelas malam, aku terbangun dan tersadar bahwa aku tertidur di kursi. Sudah ada selimut tipis yang menyelimutiku. Ayah pasti sudah pulang, pikirku. Aku berlari ke ruang tamu yang kecil dan mendapati ayahku tertidur sangat pulas dengan baju lusuh dan kotor yang masih dipakainya sejak tadi pagi. Aku menyelimuti ayah dengan selimut tipis yang tadi ku pakai. Aku rindu sekali. Padahal kami tinggal satu atap.
            Aku pergi ke kamarku, menuju lemari tak berpintu karena rusak untuk mengambil kaleng bekas kue untuk menyimpan sisa uang jajanku. Aku menghitung uang itu. Dua puluh lima ribu rupiah. Aku menghela nafas, lalu aku pergi tidur di ranjang kerasku.
¨¨¨
            Pagi itu aku terburu-buru bangun karena teringat sudah waktunya ayah pergi bekerja. “Ayah” Sapaku saat aku mendapati dia sedang menyisir rambut ikalnya. “Kau sudah bangun, nak” Sepertinya ayahku kesiangan karena dia terlihat buru-buru sekali. “Ayah hari ini kerja?” Ayahku hanya mengangguk. “Berapa gaji ayah sehari?” “Tiga puluh ribu, nak. Kenapa? Ada yang ingin kau beli?” Aku menggeleng. “Tidak bisakah ayah libur satu kali saja?” “Tidak, nak. Kalau ayah libur, kamu mau makan apa nanti. Sudah ya, ayah kesiangan. Ayah pergi dulu” Ayah pergi begitu saja. Aku nyaris tidak mengenal ayahku sekarang. Dia seperti orang lain bagiku. Biasanya, pulang sekolah aku dijemput ayah dan mampir membeli makanan ringan untuk bergadang menonton bola saat malam libur. Ayah akan menggendongku ketika aku mendapat nilai tertinggi di kelas. Dan dia selalu ada.. Dulu. Sekarang semuanya berubah.
            Aku pergi menuju rumah tetanggaku untuk membantunya menjaga warung. Aku menghabiskan waktu liburku untuk bekerja sampingan membantu tetanggaku. Hanya pekerjaan ringan yang bisa dilakukan oleh anak umur dua belas tahun. “Eh, nak Rangga. Sudah siap menjaga warung Ibu?” Bu Mirah sangat baik padaku. Dia menemaniku saat ayah tidak ada di rumah. “Iya bu” Dengan semangat aku masuk dan duduk di dalam warungnya. “Rangga. Ibu boleh tanya sesuatu, nak?” Aku mengangguk sambil meladeni pembeli. “Untuk apa kamu bekerja? Kamu disuruh ayahmu?” Aku menyimpan uang yang diberi pembeli tersebut dan berbalik menghadap Bu Mirah. “Tidak. Aku hanya menghabiskan waktu liburan, bu. Kesal sekali kalau diam terus di rumah. Di rumah sangat sepi” Jujur saja, memaksakan tersenyum tidak semudah membalikkan tangan.
            Malam itu, aku menunggu ayah di depan TV kecil dengan memeluk buku raporku yang belum sempat aku perlihatkan pada ayah. Tidak lama, ayah pulang dengan wajah letih yang sengaja disembunyikan. “Tumben ayah pulang cepat?” Aku menghampiri ayah dan mencium tangannya. “Iya, ayah sedikit pusing. Jadi ayah pulang lebih cepat agar bisa istirahat lebih lama” Dia memerhatikan buku merah yang ada di pelukanku. “Apa itu, nak?” “Ini raporku, yah. Bu Guru bilang, karena aku mendapat juara satu, aku bisa mengambil raporku walaupun ayah tidak ke sekolah” Ayahku tertegun dan memelukku erat. “Selamat ya, nak. Ayah bangga sama kamu” Aku hanya tersenyum. “Ayah. Aku kan sedang libur. Sepi sekali di rumah. Rumah sekecil ini rasanya seperti besar saking kosongnya. Apa ayah tidak bisa libur sehari saja?” Ayahku memandang lekat wajahku dan menggeleng lemas. Lalu akupun pergi ke kamar menuju lemari bututku untuk menghitung uang tabungan dalam kaleng. Dua pulih lima.. Tiga puluh.. Empat puluh ribu. Aku tersenyum dan membawa uang tersebut keluar dan menghampiri ayah. “Ayah. Kalau ayah punya uang, apa ayah bisa libur kerja? Sehari saja?” Ayahku minum teh hangat dan memunggungiku. “Tentu. Asal cukup untuk makan kita, nak” Ayah menyeruput teh panas tersebut. “Ayah.. Aku punya uang empat puluh ribu. Apa itu cukup untuk membayar waktu ayah? Sehari saja, yah. Kalau kurang, nanti aku tambah” Ayahku berbalik dengan wajah heran. “Apa maksudmu, nak?” Aku menghela nafas. “Aku menabung untuk hari liburku, ayah. Aku meminta Bu Mirah untuk mengijinkan aku bekerja menjaga warungnya. Awalnya dia menolak. Tapi aku memaksa. Dan aku mendapatkan uang dari sana. Aku ingin menghabiskan waktu bersama ayah. Walaupun hanya sehari” Ayahku menunggu aku menyelesaikan penjelasanku. “Dan ayah bilang, ayah tidak bisa libur karena kalau tidak bekerja, ayah tidak mendapatkan uang. Nah, sekarang, aku sudah mempunyai uang empat puluh ribu. Apa itu cukup untuk membayar ayah untuk menemaniku sehari? Minimal agar aku tidak merasa sendiri. Agar aku ingat aku masih mempunyai ayah” Air mataku tak terasa menetes. Ayahku langsung memelukku erat. “Maaf, nak. Ayah membuatmu kesepian selama ini. Ayah terlalu sibuk bekerja sampai ayah tidak memikirkan kamu. Maaf, nak.. Ayah tidak akan terlalu sibuk. Ayah janji. Ayah akan selalu ada buat kamu, anakku” Ayahku menangis di pelukkanku. “Aku sayang ayah..” “Ayahpun menyayangimu, nak”

TAMAT

Jumat, 27 Juli 2012

Hmm..

Love is when my smile looks beautiful
Whenever i remember his face

Love is when my eyes are amazing
Since he is the only one I see

Love is when i dream a fairy tale of us
Because I think about him every second i have

Love is when I am angry with him
And forgive him in the same time

Love is when he looks cooler with that old T-shirt
Even more than the sexiest supermodel in the world

Love is when I don't want to lock the door
As I believe in him with all my heart

Love is when I love him
Even if he realy never realizes it..

Sabtu, 28 April 2012

This Feeling

Malam itu, ia mengatakannya. lagi. dan selalu. bukannya aku bosan dengan untaian kata-kata membahagiakan itu.. hanya saja, aku semakin merasa bersalah. jika harapku hanya khayalan belaka, aku ingin melihatnya marah dibanding tersakiti..

Kamis, 22 Maret 2012

Epilog

Ketika disepanjang trotoar,
Mendenyutkan bara kehidupan,
Orang-orang berkerlap kerlip di sekelilingku,
Aku melupakan kehilanganku,
Celah dalam konstelasi akbar,
Tempat dulunya bintang berada.

Kamis

Satu api padam, api yang lain menyala.
Kesakitan orang akan berkurang akibat penderitaan orang lain.

Rabu, 21 Maret 2012

Selasa, 20 Maret 2012

Selasa

Api kecil mudah dimatikan;
Bila dibiarkan, bahakan sungaipun tidak bisa memadamkannya.

Sabtu, 17 Maret 2012

Sabtu

Ragukan bahwa bintang berpendar;
Ragukan bahwa matahari bersinar,
Ragukan yang benar adalah benar;
Namun jangan ragukan cintaku.

Jumat, 16 Maret 2012

Jumat

Kau, jika kau berakal sehat,
Saat kukatakan padamu bintang menyorotkan sinyal,
Yang masing-masing sinarnya mengerikan,
Kau takkan menoleh dan menjawabku,
"Malam begitu indah"

Kamis, 15 Maret 2012

Kamis

Aku akan membacakan abu padamu, jika kau memintaku.
Aku akan mencari dalam api yang memberitahumu dari kibasan abu-abu.
Dan dari lidah-lidah dan garis-garis merah dan hitam,
Aku akan memberitahu bagaimana api muncul.
Dan bagaimana api bisa lari sejauh lautan.

Rabu, 22 Februari 2012

Rabu

Lilinku terbakar di kedua ujungnya;
Lilin itu tidak akan tahan hingga satu malam;
Tapi, ah, musuh-musuhku, dan, oh, teman-temanku.
Lilin itu memberikan cahaya yang indah!

Selasa, 21 Februari 2012

Selasa

Saudaraku, akulah api.
Membara dari bawah laut.
Aku takkan pernah bertemu denganmu,
Saudaraku -
Mungkin tidak selama bertahun-tahun;
Mungkin ribuan tahun, saudaraku.
Lalu aku akan menghangatkanmu,
Memelukmu erat-erat, membungkusmu dalam lingkaran,
Menggunakanmu dan menggantimu -
Mungkin ribuan tahun, saudaraku.

Sabtu, 11 Februari 2012

Carl Von Clausewitz, Vom Kriege

Tidak ada seorangpun yang memulai perang – Atau mungkin lebih tepatnya tidak ada orang yang berakal sehat merasa perlu melakukannya – Tanpa lebih dulu mendapat kejelasan dalam pikirannya tentang apa yang ingin dicapainya dengan perang itu dan bagaimana dia berniat melaksanakannya.

Selasa, 31 Januari 2012

JNGKRIK

Tentunya, anda pernah mendengar suara jangkrik. Krik.. Krik.. krik. Suara jangkrik dihasilkan oleh gesekan dengan sudut 45 derajat antara sayap kanan dan kiri yang berada pada mesotorak. Pada bagian sayap yang bergesek tersebut terdapat gigi-gerigi yang berjumlah antara 50-300 sehingga terdengar suara krik. Suara krik tersusun atas syllables, dan satu seri krik disebut trill. Hanya jangkrik jantan yang dapat mengeluarkan suara. Ada empat tipe suara jangkrik yang digunakan untuk kondisi tertentu, yaitu memanggil betina, ketika akan kawin, setelah kawin dan memberi peringatan kepada jantan lain.
    Suara jangkrik tergantung pada jenis dan suhu lingkungannya. Jumlah suara krik (chirp) akan meningkat bila suhu lingkungan meningkat. Hubungan antara dan jumlah krik dikenal sebagai Hukum Dolbear. Berdasarkan hukum ini, dimungkinkan untuk menghitung suhu dalam Fahrenheit dengan menambahkan angka 40 dari krik yang dihasilkan dalam 15 detik oleh jangkrik pohon salju di Amerika Serikat.

Laut Asam, Telinga Bertambah Besar

Karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan lautan menjadi asam ternyata mengakibatkan telinga ikan bertambah besar ukurannya. Telinga ikan tidak terlihat karena berada di dalam tubuhnya. Seperti pada manusia, telinga ikan juga berfungsi mengatur gerakan. Ahli biologi oseanografi, David M Chekley dari The Scripps Intitution of Oceanography di University of California, San Diego, melakukan percobaan, membesarkan ikan bas di perairan dengan kandungan CO2 enam kali lipat level normal. Ternyata otolit (tulang kuping) ikan tumbuh 15-17 persen lebih besar dari ukuran normal.
    Percobaan lalu dilakukan pada air laut dengan kandungan Co2 sebesar 3,5 kali lipat kandungan normal – perkiraan kandungan CO2 pada tahun 2100 – ternyata otolit ikan membesar 7-9 persen. Penelitian selanjutnya adalah untuk mengetahui adakah dampak jangka panjang kondisi tersebut pada ikan. (ISW)

Kamis, 26 Januari 2012

Pinta

Aku : Kau tahu siapa tangan kanan Tuhan yang paling nyata di dunia?
Kau : Siapa? Ibu?
Aku : Lalu ayahmu kau lupakan?    
Kau : Ibu dan ayah.
Aku : Itu baru lengkap.
Kau : Ya.
Aku : Apa kau berani menantang Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Apa kau berani membangkang Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Apa kau berani menyakiti Tuhan?
Kau : Tidak.
Aku : Lalu apa beranimu?
Kau : Aku tidak punya daya dihadapan Tuhan. Aku lemah.
Aku : Lalu.. kau berani mengaku-ngaku bahwa kau berani? Apa beranimu?
Kau : Tidak ... ada.
Aku : Lalu.. kau berani berdiri menopang dagu diatas sajadah, tanpa hijab atau sarung, tanpa wudhu, dengan bibir berucap bahwa kau itu kuat? berkuasa?
Kau : Aku ...
Aku : Apa yang salah dari sholat?
Kau : Tidak ada yang salah.
Aku : Kau merasa tidak diberkahi oleh Tuhan?
Kau : Tidak, aku tidak merasa tidak diberkahi. Aku diberkahi.
Aku : Kau punya semuanya?
Kau : Ya, aku punya.
Aku : Tidak. Kau salah. Semua bukan milikmu. Itu milik Tuhanmu. Jawab pertanyaanku, Siapa tangan kanan Tuhan di dunia?
Kau : Ayah dan Ibu.
Aku : Kalau kau merasa memiliki semuanya, sekarang jawab, siapa yang membuat kau ada dan kemudian pada akhirnya kau memiliki segalanya?
Kau : Tuhan, Ayah dan Ibu ..
Aku : Sekarang, apa kau memiliki segalanya tanpa mereka?
Kau : ... tidak
Aku : Kau pasti pernah sholat kan?
Kau : Ya.
Aku : Pertanyaan terakhirku, kalau kau merasa sudah memiliki segalanya, apa yang kau lakukan sesudah sholat? Kau bersimpuh bahkan bersujud. Untuk apa? Berdoa. Meminta. Lalu apa itu artinya kau punya segalanya?
Kau : ...

Senin, 16 Januari 2012

Tanpaku..

Sabtu itu kau pergi. Sementara, namun rinduku tak mampu ku bendung. “Aku pergi ya. Dadah” Kau memeletkan lidahmu. Kucubit lembut lenganmu, “Biar, kan masih banyak yang lain” Aku pun melakukan hal yang sama. Dan kau memasang tampang cemberutmu. Lucu. “Yasudah” Dengan muka cemberutmu kau lepas tanganku. “Haha. Kan hanya bercanda” Ku rangkul kembali lenganmu. Hening. “Jangan macam macam di sana” Kataku. “Kan, kau ‘masih banyak’ di sini” Balasnya. “Ayolah, itukan hanya bercanda” Bujukku. Kau hanya tersenyum. Beberapa hari ini aku akan sendiri, batinku. Cepatlah pulang. Janjikan kau akan ada disetiap detik dihariku.
 
Hari keberangkatanmu. Entah dari mana awalnya, mungkin aku tak sengaja berbuat kesalahan. Entah dari kapan kau mulai berubah. Atau mungkin aku yang berubah.. Aku sedikit menyesal karenanya. Kau akan pergi. Sedangkan aku merusak suasana. Maafkan aku..
Kau pamit untuk pergi ke kota metropolitan. “Bukit bintaaaaang!” Ponselku tiba tiba mengalun dengan lagu This Way-nya Depapepe. “Kau menikmatinya tanpa aku” Sending sms. “Siapa bilang? Kau ada disini. Di hatiku” Balasmu. “Terlalu berlebihan” Walaupun sebenarnya aku senang sekali. “Kau sendiri yang mengajariku” Aku hanya tersenyum. Aku rindu. Tepat satu minggu yang lalu, aku dan kau menikmati Bukit Bintang bersama. Dan sekarang, kau menikmatinya sendiri. Tanpa aku. Curang. Haha. Teringat padamu, aku mengirim pesan singkat. “Sedang apa?” Sending sms. “Di pantai. Jembatan ancol. Sunset. Andai kau di sini..” Balasnya kilat. “Titip saja keindahan itu. Dan cepatlah pulang. Aku pun ingin menikmatinya walau sekedar cerita. Cepatlah pulang.” Kau menikmati keindahan alam tanpaku lagi.. Batinku. “Cepatlah hari sabtu. Aku rindu sekali” Balasmu. “Rindu parah! Haha”
 
Dan malam ini kau pulang.. Sekarang aku menunggu 6 hari. Masih menunggu. Tapi setidaknya kau pulang malam ini..

Minggu, 15 Januari 2012

Kangen :)

Kangen itu indah ya? Dia bisa membawa hati melewati palung terjal bernama perasaan. Dia bisa membuat hati berasa sangat panjang karena tak juga bertemu orang yang paling disayang. Dia bisa membuat kita sadar bahwa ternyata ada seseorang yang ingin kita jaga dan kita sayang.

Bukit bintang :D

Liburan! Ya. Akhirnya saya dapat berteriak hal menyenangkan itu. Upik, panggilan kecilku untuk seseorang yang berarti dalam hidupku, ikut serta dalam liburan kali ini. Tak dapat saya gambarkan betapa bahagianya saya hingga dapat merasakannya sampai ke perut. Pagi itu saya menjemputnya. Meraungi jalanan yang kosong karena masih terlalu pagi. Nyaman sekali suasana pagi itu. Melewati kota tanpa kotornya polusi. Dingin dan bersih. Hh.. Andai suasana seperti ini dapat ku nikmati dalam waktu yang lama.

Saya, Upik, dan teman teman saya sudah berkumpul di rumah. Ada Kimi, Ame, Key, Ipeh, Rin, Chie, dan Denot. Suasana rumah saya begitu hangat walau diluar sangat dingin. Kehangatan itu disebabkan oleh suasana yang kami ciptakan. Tertawa, saling meledek, dan ngobrol. Kami pun berangkat. Menuju kota Paris Van Java. Alunan musik tak hentinya menemani kami selama perjalanan. Tak lepas dari ledek meledek, menciptakan tawa yang membahana dalam mobil. Masing masing dari kami sangat menikmati perjalanan tersebut.

Kepatihan! Tempat yang kami kunjungi sesampainya di kota kembang. Kami melihat lihat kaca mata yang dijajakan oleh para pedagang. Saya melihat orang lalu lalang de depan saya. Keramaian kota, antusias pembeli dan pedagang, kegirangan teman teman saya karena mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka senang.

Villa Bunga Lembang. Ahh.. Lelah sekali rasanya setelah seharian jalan-jalan. Saya merapikan pakaian saya dalam tas, mengambik handuk, dan pergi untuk menunaikan tugas mulia.. Mandi. Heheheh. Air dingin itu mengguyur seluruh tubuhku. Dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Dan air dingin itu mengalir ke tempat dimana ia akan di daur ulang. Segar sekali rasanya mandi dengan air dingin, malam malam di tempat paling tinggi di kota Bandung. Saya ikut berkumpul dengan yang lain. Saya ambilkan gitar untuk kami bernyanyi. Bukan. Tentu saja bukan saya yang memainkan gitar tersebut. Upik mengambil gitar dari lenganku dan mulai memetik beberapa senar. Nada nada yang dimainkannya sangat rapi. Tanpa orang lain ketahui, jika ia memainkan sebuah lagu dengan petikan yang khas, saya akan tenggelam bersama alunan melodi yang terdengar. Entah karena merasa ia spesial atau memang permainan gitarnya sangat enak di dengar. Tapi, ya. Harus saya akui. Ia adalah musisi favorit saya. Kami bernyanyi sambil menunggu waktu dimana kami akan menikmati kota Bandung di malam hari.

Upik tertidur di sebelah saya. Begitu lucunya dia. Sampai sampai saya tidak ingin mengalihkan pandangan dari wajah polosnya saat tidur. Saya menikmati suara yang berbisik pada radio yang volume nya sengaja di minimkan. Upik terbangun, dan tersenyum ketika melihatku tersenyum padanya. Kecepatan 40 km/jam kami melaju. Terlalu cepat untuk bisa menikmati indahnya Bandung malam. Dan saat kecepatan dikurangi, saya teringat satu hal terkait Bandung dan malam. Bukit Bintang. Saya mencari cari dimana saya dapat melihat Bukit Bintang. Tapi ternyata yang terlihat hanya kendaraan dan keramaian. Kami terjebak macet ternyata. Selepasnya dari macet, saya menerawang melalui jendela mobil. Ah! Bukit Bintang! Saya melihat cahaya kerlap kerlip pada bukit yang gelap. Cahaya yang berasal dari lampu rumah penduduk. Hingga kelihatan seperti bukit yang berbintang. Begitulah kenapa saya menamainya Bukit Bintang. Indah sekali. Ditambah ada Upik yang menemaniku menikmati Bukit Bintang. Saya sudah membayangkan dapat melihat bukit itu bersama orang yang spesial. Dan kemarin, harapan saya menjadi nyata. Saya menikmatinya. Bersama orang yang paling spesial. Tak menyangka hingga saat ini harapan saya akan terkabul. Upik.. Dan Bukit Bintang. Kenangan yang tak mungkin lepas dari memori otak saya..

Jumat, 13 Januari 2012

Cemburu..

Dia: Kau tahu? Aku butuh kau.
Aku: Untuk?
Dia: Segala hal.
Aku: Kau tahu aku ini untukmu.
Dia: Tapi..
Aku: Apa?
Dia: Ada hal yang mengganjal.
Aku: Apa itu?
Dia: Tidak. Lupakan.
Aku: Cerita sajalah.
Dia: Aku rindu.
Aku: Haynya itu?
Dia: Ya.
Aku: Lalu.. Apa yang mengganjal?
Dia: Tidak. Lupakan saja,
Aku: Ayolah..
Dia: Aku.. Hanya.. Cemburu. Aku adalha orang yang mudah cemburu. Ya, setidaknya untuk saat ini. Tapi hanya kau. Tidak pada yang lain. Maaf..
Aku: Maaf?
Dia: Sikapku aneh jika cemburu.
Aku: Tidak masalah.
Dia: Kau.. Tidak keberatan?
Aku: Tidak.
Dia: Kenapa?
Aku: Untuk apa? Karena aku tahu arti cemburu mu. Cemburu mu adalah sayang mu.. :)