Minggu, 15 Januari 2012

Bukit bintang :D

Liburan! Ya. Akhirnya saya dapat berteriak hal menyenangkan itu. Upik, panggilan kecilku untuk seseorang yang berarti dalam hidupku, ikut serta dalam liburan kali ini. Tak dapat saya gambarkan betapa bahagianya saya hingga dapat merasakannya sampai ke perut. Pagi itu saya menjemputnya. Meraungi jalanan yang kosong karena masih terlalu pagi. Nyaman sekali suasana pagi itu. Melewati kota tanpa kotornya polusi. Dingin dan bersih. Hh.. Andai suasana seperti ini dapat ku nikmati dalam waktu yang lama.

Saya, Upik, dan teman teman saya sudah berkumpul di rumah. Ada Kimi, Ame, Key, Ipeh, Rin, Chie, dan Denot. Suasana rumah saya begitu hangat walau diluar sangat dingin. Kehangatan itu disebabkan oleh suasana yang kami ciptakan. Tertawa, saling meledek, dan ngobrol. Kami pun berangkat. Menuju kota Paris Van Java. Alunan musik tak hentinya menemani kami selama perjalanan. Tak lepas dari ledek meledek, menciptakan tawa yang membahana dalam mobil. Masing masing dari kami sangat menikmati perjalanan tersebut.

Kepatihan! Tempat yang kami kunjungi sesampainya di kota kembang. Kami melihat lihat kaca mata yang dijajakan oleh para pedagang. Saya melihat orang lalu lalang de depan saya. Keramaian kota, antusias pembeli dan pedagang, kegirangan teman teman saya karena mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka senang.

Villa Bunga Lembang. Ahh.. Lelah sekali rasanya setelah seharian jalan-jalan. Saya merapikan pakaian saya dalam tas, mengambik handuk, dan pergi untuk menunaikan tugas mulia.. Mandi. Heheheh. Air dingin itu mengguyur seluruh tubuhku. Dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Dan air dingin itu mengalir ke tempat dimana ia akan di daur ulang. Segar sekali rasanya mandi dengan air dingin, malam malam di tempat paling tinggi di kota Bandung. Saya ikut berkumpul dengan yang lain. Saya ambilkan gitar untuk kami bernyanyi. Bukan. Tentu saja bukan saya yang memainkan gitar tersebut. Upik mengambil gitar dari lenganku dan mulai memetik beberapa senar. Nada nada yang dimainkannya sangat rapi. Tanpa orang lain ketahui, jika ia memainkan sebuah lagu dengan petikan yang khas, saya akan tenggelam bersama alunan melodi yang terdengar. Entah karena merasa ia spesial atau memang permainan gitarnya sangat enak di dengar. Tapi, ya. Harus saya akui. Ia adalah musisi favorit saya. Kami bernyanyi sambil menunggu waktu dimana kami akan menikmati kota Bandung di malam hari.

Upik tertidur di sebelah saya. Begitu lucunya dia. Sampai sampai saya tidak ingin mengalihkan pandangan dari wajah polosnya saat tidur. Saya menikmati suara yang berbisik pada radio yang volume nya sengaja di minimkan. Upik terbangun, dan tersenyum ketika melihatku tersenyum padanya. Kecepatan 40 km/jam kami melaju. Terlalu cepat untuk bisa menikmati indahnya Bandung malam. Dan saat kecepatan dikurangi, saya teringat satu hal terkait Bandung dan malam. Bukit Bintang. Saya mencari cari dimana saya dapat melihat Bukit Bintang. Tapi ternyata yang terlihat hanya kendaraan dan keramaian. Kami terjebak macet ternyata. Selepasnya dari macet, saya menerawang melalui jendela mobil. Ah! Bukit Bintang! Saya melihat cahaya kerlap kerlip pada bukit yang gelap. Cahaya yang berasal dari lampu rumah penduduk. Hingga kelihatan seperti bukit yang berbintang. Begitulah kenapa saya menamainya Bukit Bintang. Indah sekali. Ditambah ada Upik yang menemaniku menikmati Bukit Bintang. Saya sudah membayangkan dapat melihat bukit itu bersama orang yang spesial. Dan kemarin, harapan saya menjadi nyata. Saya menikmatinya. Bersama orang yang paling spesial. Tak menyangka hingga saat ini harapan saya akan terkabul. Upik.. Dan Bukit Bintang. Kenangan yang tak mungkin lepas dari memori otak saya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar